Ahli Tepis Kerisauan Soal Nyamuk Wolbachia: Kami ‘Disedot’ 12 Tahun

Pakar menyebut Yogyakarta sudah menjadi kelinci percobaan nyamuk dengan bakteri Wolbachia dan hasilnya nyata: DBD anjlok!

Yogyakarta, CNN Indonesia

Peneliti Pusat kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad menyebut penyebaran nyamuk dengan bakteri Wolbachia tak perlu dirisaukan lantaran para peneliti lah yang jadi kelinci percobaannya selama bertahun-tahun.

Hal ini dikatakannya untuk menjawab kekhawatiran banyak warganet di media sosial yang gusar karena mengira mereka bakal jadi kelinci percobaan efektivitas nyamuk ber-Wolbachia.

“Banyak warganet yang mengatakan, jangan kami dijadikan kelinci percobaan,” kata Riris dalam acara ‘Selebrasi Sedasawarsa Warga Yogyakarta Hidup bersama Nyamuk Ber-Wolbachia’ di UGM, Sleman, Rabu (22/11).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia dan para peneliti lainnya selama 12 tahun mengaku telah memberi ‘makan’ nyamuk-nyamuk tersebut. Dia pun menekankan jika fase penelitian telah selesai sebelum tahap implementasi teknologi Wolbachia ini.

“Apa yang diimplementasikan itu bukanlah kelinci percobaan, karena kelinci percobaannya adalah kami,” cetus pria yang akrab dipanggil Doni ini.

Ia dalam kesempatan ini juga membawa salah satu insektarium penampungan nyamuk ber-Wolbachia. Tanpa ragu, Riris memasukkan lengan kirinya di atas insektarium itu dan membuat para nyamuk mengerumuni tangannya.

Kata dia, satu peneliti secara rutin setiap pekannya memberi makan nyamuk ber-Wolbachia dengan membiarkannya menghisap darah dari kaki dan tangan kanan-kiri. Durasinya biasanya 10-15 menit satu kali pemberikan makan sampai para nyamuk kenyang.

“Empat kandang, 600 [ekor] kali empat [kandang]. Dan kandang ada namanya [peneliti]. Itu spesifik, kalau saya terdaftar di sini ya jadi anak kandung saya, anak darah saya, kami bersaudara dalam darah,” katanya.

Hasilnya, gigitan nyamuk ber-Wolbachia ini hanya menimbulkan efek gatal pada kulit. Bakteri Wolbachia juga tidak bisa masuk ke dalam tubuh manusia, karena hanya bisa tinggal di dalam sel tubuh serangga dan akan mati ketika keluar dari sel tubuh serangga tersebut.

Riris menambahkan efek gatal yang dihasilkan nyamuk ber-Wolbachia masih sama seperti nyamuk lainnya. Namun, ketika nyamuk Aedes aegypti mengandung bakteri Wolbachia, gigitan tersebut tak lagi menularkan virus dengue yang menyebabkan demam berdarah.

“Makanan utamanya, kalau di alam kaya serangga yang lain, itu madu. Itu makanan utamanya. Tapi, nyamuk betina itu butuh protein darah untuk proses reproduksinya, untuk menghasilkan telur,” paparnya.

Riris mengklaim riset belasan tahun telah dibuktikan kesuksesannya dengan testimoni positif dari masyarakat yang lingkungan tinggalnya disebar nyamuk ber-Wolbachia.

Soal kekhawatiran menyebabkan radang otak, Riris juga membantahnya. Ia menjelaskan setiap penyakit itu punya vektor (pembawa)-nya masing-masing.

Contohnya, Aedes aegypti di Indonesia membawa penyakit dengue, chikungunya, dan yellow fever.

“Terkait dengan radang otak, itu adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyebabkan memang Encephalitis. Vektor yang menyebabkan adalah [nyamuk] Culex, salah satu reservoir (inang)-nya adalah babi.”

“Virusnya juga ada di sana, makan, ketika ada vektornya. Maka akan bisa menyebabkan penyakit radang otak, dan itu tidak ada sama sekali hubungannya dengan Aides,” lanjutnya.

Kendati demikian, Riris menyadari bahwa suatu hal baru lumrah apabila menimbulkan kekhawatiran akibat ketidaktahuan.

“Ya sebenarnya tujuan kami agar kita juga bisa memberikan informasi berimbang. Bahwa memang teknologi ini tidak seperti yang disebarkan di media sosial,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(kum/rfi/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com