Ahli Bongkar Hasil Tes DNA Rambut ‘Yeti’ di Himalaya

Alih-alih bukti keberadaan Yeti, rambut yang ditemukan di Himalaya ternyata punya DNA makhluk berikut.


Jakarta, CNN Indonesia

Ahli membantah temuan rambut Yeti, makhluk yang digambarkan seperti kera putih besar yang berjalan dengan dua kaki di daerah pegunungan Himalaya, karena ternyata itu adalah bulu kuda.

Seorang penulis dan guru meditasi, Andrew Benfield telah menghabiskan waktu lama untuk mencari Yeti. Andrew ditemani oleh seorang analis politik bernama Ricard Horsey.

Keduanya melakukan perjalanan ke India, Myanmar, Nepal, dan Bhutan. Untuk mendokumentasikan perjalanan mereka dibuatlah sebuah serial bernama ‘Yeti’ yang disiarkan oleh Radio BBC 4.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir LiveScience, serial ini berakhir dengan klimaks di bulan Juni, ketika sehelai rambut misterius diberikan oleh sumber yang tak disebutkan namanya menunggu hasil analisis DNA. Usai penelitian rampung, muncul episode bonus yang tayang 20 Oktober 2023, dan mengungkapkan bahwa rambut tersebut berasal dari seekor kuda.

Benfield mengatakan hasilnya “tidak menyenangkan” setelah tiga tahun pencarian. “Seekor kuda adalah hal yang paling tidak menarik bagi kami,” kata Benfield.

Namun, analisis DNA tidak membatalkan seri atau cerita dari orang-orang yang mereka ajak bicara selama perburuan.

Kisah perburuan Yeti

Cerita tentang makhluk mirip kera yang berkeliaran di Himalaya sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Ketertarikan orang Barat terhadap Yeti, atau manusia salju yang mengerikan, meningkat pada awal tahun 1950-an setelah pendaki gunung asal Inggris, Eric Shipton, kembali dari Everest dengan membawa foto-foto jejak kaki raksasa.

Penelitian lanjutan yang dipimpin oleh para peneliti Barat gagal menemukan bukti ilmiah tentang keberadaan makhluk tersebut.

Benfield berangkat pada tahun 2019 untuk mendengarkan cerita langsung tentang Yeti dan mengundang Horsey, yang memiliki gelar PhD di bidang psikologi kognitif, untuk bergabung dengannya.

BBC mulai terlibat pada tahun 2022, tepat sebelum keduanya menuju ke Bhutan dan Suaka Margasatwa Sakteng, sebuah taman nasional seluas 740 kilometer persegi yang didirikan, sebagian, untuk melindungi “Migoi”, atau Yeti.

Di momen ini, Horsey akhirnya mendapatkan cerita yang meruntuhkan keraguannya, dan Benfield mendapatkan rambut Yeti yang panjangnya sekitar 15 sentimeter.

Benfield memotong rambut itu menjadi dua dan mengirimkannya ke Charlotte Lindqvist, ahli biologi evolusi di Universitas Buffalo di New York. Lindqvist dan timnya kemudian menemukan DNA tersebut cocok dengan kuda Altai, ras pegunungan dari Asia.

Benfield menerima hasil DNA tersebut tetapi masih belum memberi separuh rambut lainnya, yang saat ini disimpan di dalam lemarinya.

Dia juga berbicara tentang betapa luasnya wilayah Himalaya yang belum tersentuh dan belum dijelajahi, dan mengatakan bahwa kisah-kisah Yeti berasal dari orang-orang yang mengetahui wilayah tersebut.

“Anda tentu saja menghargai pengetahuan masyarakat setempat ketika Anda berada di atas sana karena mereka membuat Anda tetap hidup,” kata Benfield.

“Siapa saya untuk mempertanyakan orang-orang ini? Mereka ada di luar sana setiap hari,” imbuhnya.

Horsey tidak mengira mereka akan kembali dengan membawa bukti DNA, namun mengatakan bahwa Yeti lebih penting bagi masyarakat lokal daripada yang pernah dia bayangkan.

Selain mereka, penulis bernama Tshering Tashi mengatakan masyarakat Bhutan yakin bahwa Yeti itu ada, namun “tidak terburu-buru” untuk memberikan bukti.

“Meskipun pasti ada makhluk biologis di balik mitologi tersebut, kami percaya bahwa bentuk dan wujudnya tidak akan seperti yang diromantiskan orang Barat,” tulis Tashi.

[Gambas:Video CNN]

(rfi/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com