Adu Kuat El Nino Lawan Angin Monsun Asia, Siapa Jadi Juara?

Fenomena musim hujan 2023/2024 diramaikan oleh adu kuat terutama antara El Nino dan Angin Monsun Asia. Siapa unggul sejauh ini?


Jakarta, CNN Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut saat ini tengah terjadi adu kuat fenomena ‘pengering’ hujan El Nino dan angin pembawa uap air Monsun Asia (Monsoon Asia) beserta sejumlah faktor cuaca pembentuk awan hujan.

“Perlu dipahami juga bahwasanya di bulan Januari-Februari ini secara nature-nya ini adalah Monsoon Asia di mana itu membawa massa udara basah yang jadi salah satu pemicu hujan, walaupun ada El Nino itu tereduksi dengan adanya itu (angin monsun),” ujar Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Rabu (10/1).

Ia menyebut Desember 2023 El Nino sempat lebih dominan dibandingkan Monsoon Asia yang berdampak pada selatan ekuator yang cenderung kering.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“El Nino punya dampak karena ada beberapa hal ada yang mendukung tidak ada hujan, contoh blocking area udara basahnya tidak masuk gitu kan nah berarti dominan tuh El Nino jadinya kering, selatan ekuator kering,” tuturnya.

Dalam laporan BMKG pada 23 Desember, sirkulasi angin di Laut Cina Selatan (LCS) disebut menghambat aliran massa udara basah dari Asia ke wilayah Indonesia, sehingga potensi hujan lebat masih terkonsentrasi di wilayah Sumatra dan Kalimantan Barat.

Sirkulasi di LCS ini diidentifikasi sebagai Bibit Siklon Tropis 18W yang bergerak ke arah barat menuju daratan Semenanjung Malaysia dan berpotensi rendah menjadi sistem siklon tropis.

“Sirkulasi angin di LCS tersebut juga secara tidak langsung memberikan dampak terhadap kurangnya potensi pertumbuhan awan di wilayah selatan ekuator, kondisi ini diperkuat juga dengan adanya fase kering fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) di sebagian wilayah Indonesia,” tulis BMKG dalam laporannya.

“Sehingga turut memicu kurangnya tutupan awan pada siang hari, mengakibatkan pada siang hari kondisi suhu cukup panas dan terik dengan kisaran suhu dapat mencapai 35–37 derajat C,” tambahnya.

Namun, pada Januari monsun Asia dan sejumlah faktor yang membantu pertumbuhan awan hujan dinilai lebih dominan, sehingga sejak awal Januari hujan sudah mulai turun kembali.

“Iya [sepanjang Januari monsoon Asia] dominan dan juga ada MJO mulai masuk, kemudian gelombang ekuatorial itu terbentuk salah satunya untuk meng-enhance monsoon Asia.”

“Tadi ketika berasosiasi dengan fenomena-fenomena lain, faktor-faktor pendukung lainnya seperti ada belokkan angin akibat pola siklonik itu juga mempengaruhi dan juga naiknya permukaan air laut yang juga faktor-faktor yang di Januari ini kita masih potensi hujan,” jelas Andri.

[Gambas:Video CNN]

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com