5 Fakta Terbaru Gempa Sumedang Kata BMKG, Kecil tapi Merusak

BMKG mengungkap sejumlah fakta penting terkait Gempa Sumedang yang memicu kerusakan ratusan bangunan, mulai dari kerak dangkal hingga sesar aktif.


Jakarta, CNN Indonesia

Gempa Sumedang yang memicu kerusakan ratusan rumah dipicu kerak dangkal hingga sesar aktif yang belum terpetakan. Simak fakta-fakta lainnya berikut.

Pada Minggu (31/1), Sumedang, Jawa Barat, diguncang rentetan tiga gempa dirasakan. Pertama, Gempa Magnitudo (M) 4,1 pada kedalaman 7 km, pukul 14.35 WIB; kedua, Gempa M 3,4 dengan pusat di kedalaman 6 km, pukul 15.38 WIB;

Ketiga, gempa Magnitudo 4,8 dengan kedalaman 5 km, pukul 20.34 WIB. Gempa dangkal ini merusak ratusan bangunan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai serangkaian penelitian lapangan, Daryono, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengungkap beberapa fakta penting lindu di wilayah ini.

Pertama, Gempa Sumedang merupakan jenis gempa ‘kerak dangkal’ (shallow crustal earthquake) di zona tanah lunak.

Menurutnya, gempa semacam ini dipicu aktivitas sesar aktif, yang seluruh pelepasan energinya terkonsentrasi pada wilayah lokal. Meski magnitudonya relatif kecil (4,8), ia menyebut Gempa Sumadang dapat merusak lebih dari 149 bangunan rumah.

Selain kedalaman gempanya yang dangkal, episenter gempa kerak dangkal yang terletak di zona tanah lunak dan tebal. Daryono menyebut kondisi ini memperparah kerusakan.

“Memicu resonansi yang berujung amplifikasi/penguatan gelombang gempa sehingga gempa kerak dangkal dikenal sangat merusak dan mematikan.”

Beberapa contoh gempa kerak dangkal adalah Gempa Cianjur 2022 (lebih dari 600 orang meninggal dunia), Gempa Yogyakarta 2006 (lebih dari 6.000 orang meninggal), Gempa Turki 2023 (lebih dari 17.000 orang meninggal), Gempa Sichuan China 2008 (lebih dari 70.000 orang meninggal).

“Gempa Sumedang memberi pelajaran akan pentingnya mitigasi konkrit dengan mewujudkan bangunan dengan struktur kuat dan Rencana Tata Ruang Wilayah yang aman, berbasis risiko gempabumi,” tuturnya.

Kedua, Gempa Sumedang sebenarnya terjadi di zona kegempaan rendah (low seismicity).

Dalam Peta Seismisitas Jawa Barat, tampak bahwa Kota Sumedang tidak terdapat kluster seismisitas mencolok seperti lazimnya di jalur sesar aktif.

Gempa Sumedang mirip Gempa Kalatoa di Laut Flores M 7,4 (2021), Gempa Talamau 2022, dan Gempa Probolinggo M 4,1 (2022) yang juga terjadi di zona seismisitas rendah.

“Gempa Sumedang memberi pesan akan pentingnya mitigasi gempabumi meski di wilayah dengan aktivitas kegempaan rendah,” kata dia.

Ketiga, Gempa Sumedang memiliki magnitudo kecil tetapi merusak.

BMKG mencatat sejumlah gempa kerak dangkal dengan magnitudo kecil yang terbukti merusak seperti Gempa Madiun M 4,2 (2015), Gempa Pangalengan M 4,2 (2016), Gempa Garut M 3,7 (2017), Gempa Banjarnegara M 4,4 (2018).

Selain itu, Gempa Lebak M 4,4 (2018), dan Gempa Kuningan-Brebes M 4,2 (2020).

“Gempa Sumedang memberi pesan kepada kita agar tidak mengabaikan setiap gempa kerak dangkal, meskipun magnitudonya kecil,” Daryono mengingatkan.

Keempat, Gempa Sumedang diduga merupakan perulangan gempa pada 14 Agustus 1955.

“Jangan melupakan sejarah, dalam seismologi kita mengenal konsep ‘return period’ atau periode ulang gempa, bahwa gempa yang pernah terjadi di suatu tempat, satu saat akan terjadi lagi,” tutur Daryono.

Menurutnya, bisa jadi satu saat gempa akan terjadi lagi menghampiri tempat yang kita anggap aman karena ketidaktahuan akan sejarah gempa merusak masa lalu.

Kelima, Gempa Sumedang dipicu aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan. Menurutnya, pemberian nama Sesar Sumedang sebagai pemicu gempa tersebut berguna buat meningkatkan kewaspadaan. 

“Gempa Sumedang menjadi ‘human interest’ terkait nama sesar pembangkit gempa.”

Dalam hal ini gempa Sumedang mirip Gempa Solok M 5,3 (2019), Gempa Ambon M 6,5 (2019), Gempa Kalatoa Laut Flores M 7,4 (2021), Gempa Ampana Sulawesi Tengah M 6,5 (2021), dan Gempa Cianjur M 5,6 (2022).

Data hiposenter gempa BMKG, katanya, menunjukkan kluster seismisitas cenderung berarah utara-selatan, melintasi Kota Sumedang.

Daryono menyatakan kondisi ini mirip sejumlah kota yang dilalui jalur sesar aktif seperti Palu (Sesar Palu-Koro), Sorong (Sesar Sorong), Aceh (Sesar Aceh), Gorontalo (Sesar Gorontalo), Semarang (Sesar Semarang), Lembang (Sesar Lembang).

“Nama sesar aktif merujuk nama tempat yang berisiko sehingga akan memberikan muatan pesan kesiapsiagaan dan edukasi mitigasi gempabumi bagi masyarakat setempat,” tandasnya.

[Gambas:Video CNN]

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com