11 Kota Terancam Tenggelam di 2100 Versi WEF, Jakarta Nomor 1

Sejumlah kota di pinggir pantai AS terancam tenggelam pada 2050 berdasarkan riset NASA. Mirip nasib Jakarta!
Jakarta, CNN Indonesia

Belasan kota pesisir terancam tenggelam di 2100 imbas pemanasan global yang memicu kenaikan permukaan air laut. Ada pula faktor eksploitasi air tanah berlebih.

Kota-kota pesisir yang terletak di dataran rendah sudah mengalami banjir besar dan berupaya mencari solusi kreatif untuk mengatasi kenaikan air pasang.

Beberapa kota, menurut keterangan World Economic Forum (WEF), akan tenggelam karena naiknya permukaan air laut yang perlahan-lahan merambah pantainya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lembaga antariksa AS (NASA), berdasarkan pengukuran satelit, menyatakan kenaikan permukaan air laut secara global sejak 1993 hingga 2 Mei 2022 mencapai 101,2 mm (10,1 cm), atau 3,3 mm per tahun.

Kenaikan muka laut itu diperparah oleh faktor perluasan air laut saat memanas, yang juga terkait pemanasan global.

“Ekspansi termal air” itu terjadi ketika air menjadi lebih hangat yang menyebabkan volume air meningkat. NASA menyebut sekitar setengah dari kenaikan permukaan laut global berasal dari faktor ini.

Selain itu, WEF juga menyoroti kota-kota lain yang diprediksi akan tenggelam karena pemompaan air tanah yang berlebihan sehingga menyebabkan perubahan tekanan dan volume yang menyebabkan daratan tenggelam.

Berikut 11 kota tenggelam yang terancam karam berdasarkan rangkuman WEF bertajuk ‘These 11 sinking cities could disappear by 2100’:

Jakarta

Jakarta tenggelam hingga 6,7 inci (17 cm) per tahun karena pemompaan air tanah yang berlebihan (yang menyebabkan perubahan tekanan dan volume yang menyebabkan tanah tenggelam). Sebagian besar bagian kota ini diprediksi akan tenggelam pada 2050.

Pakar Geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengungkapkan faktor penurunan muka tanah lebih berperan dalam tenggelamnya Jakarta ketimbang kenaikan air laut.

Sejauh ini, katanya, kenaikan permukaan air laut, berdasarkan pengukuran satelit altimetri selama 20 tahun, di Jakarta mencapai 6 mm-1 cm per tahun.

Sementara, penurunan rata-rata muka tanah akibat pengambilan air tanah berlebih mencapai 10 cm hingga 20 cm per tahun.

“Kalau 100 tahun akan ada penurunan 10 meter. [Faktor] inilah yang paling signifikan sebagai penyebab banjir rob. Karena kan tanah turun terus, lama-lama di bawah laut,” jelas Heri, beberapa waktu lalu.

Pemerintah pun baru-baru ini menyetujui rencana untuk memindahkan ibu kota ke IKN, yang menurut WEF, menelan biaya US$33 miliar (sekitar Rp512 triliun).

Lagos, Nigeria

Garis pantai Lagos yang rendah terus terkikis dan naiknya air laut akibat pemanasan global membuat kota terbesar di Afrika ini terancam banjir.

Studi 2012 dari University of Plymouth menemukan kenaikan permukaan laut setinggi 3 hingga 9 kaki (91,44 hingga 274,32 cm) akan “memiliki dampak yang sangat buruk terhadap aktivitas manusia di wilayah ini.”

Permukaan air laut global diperkirakan akan naik 6,6 kaki (201,168 cm) pada akhir abad ini.




Infografis Peta Proyeksi Jakarta Tenggelam. (Basith Subastian/CNNIndonesia)

Houston, Texas, AS

WEF menyebut sebagian wilayah Houston tenggelam dengan kecepatan 2 inci (5 cm) per tahun karena pemompaan air tanah yang berlebihan.

Semakin tenggelamnya Houston, semakin rentan wilayah tersebut terhadap bencana yang semakin sering terjadi seperti Badai Harvey, yang merusak hampir 135.000 rumah dan membuat sekitar 30.000 orang mengungsi.

Dhaka, Bangladesh

Bangladesh menghasilkan 0,3 persen emisi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Namun, negara ini menghadapi konsekuensi terbesar dari naiknya permukaan air laut, melansir laporan The New York Times.

Lautan dapat membanjiri 17 persen daratan Bangladesh dan membuat sekitar 18 juta warganya mengungsi pada 2050.

Kota di Italia hingga AS di halaman berikutnya…

 




Sumber: www.cnnindonesia.com